Minggu, 21 Desember 2008

Hidup Kita tak Abadi





Oleh: Tim dakwatuna.com


Manusia adalah makhluk Allah swt. yang diciptakan dari tanah (at-turab) dan ruh. Allah swt. membekalinya dengan hati, akal, dan jasad sehingga manusia memiliki tekad (al-‘azmu), ilmu dan amal. Dengan berbekal ketiganya manusia diberi amanah oleh Allah swt., sebuah amanah yang makhluk-makhluk lain yang jauh lebih besar dari manusia, seperti langit, bumi dan gunung-gunung, menolak untuk menerimanya (Al-Ahzab: 72). Amanah yang diterima manusia berupa ibadah (Adz-Dzariyat: 56) yang merupakan tujuan penciptaannya dan khilafah (Al-Baqarah: 30) yang merupakan fungsi manusia di dunia. Kedua amanah ini kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hari akhir.

Sesungguhnya manusia hidup bukan hanya di dunia saja, tetapi telah menjalani kehidupan lain sebelum ke dunia dan akan menjalani kehidupan lainnya lagi setelah di dunia. Itulah tahapan-tahapan kehidupan manusia. Allah swt. berfirman:

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati(1), lalu Allah menghidupkan kamu(2), kemudian kamu dimatikan(3) dan dihidupkan-Nya kembali(4), kemudian kepada-Nya-lah kamu(5).” (Al-Baqarah: 28)

Secara garis besar penjelasan ayat di atas ditunjukkan oleh Tabel 1.

Tabel 1, Mengapa kamu kafir kepada Allah?

No

Potongan Ayat

Keterangan

1

padahal kamu tadinya mati

Mati

2

lalu Allah menghidupkan kamu

Hidup

3

kemudian kamu dimatikan

Mati

4

dan dihidupkan-Nya kembali

Hidup

5

kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan

Dikembalikan

Secara lebih rinci, seluruh tahapan kehidupan yang telah dan akan dialami manusia ditunjukkan oleh Tabel 2. Seluruh manusia akan mengalami 14 (empat belas) alam, dari alam ruh hingga surga atau neraka. sebelas alam di antaranya adalah alam setelah manusia mati. Sungguh perjalanan yang sangat panjang menuju surga atau neraka.

Tabel 2 Seluruh tahapan kehidupan manusia

AYAT

ALAM ANTARA

ALAM UTAMA

padahal

kamu tadinya mati


1) Alam Kesatu : ALAM ROH /ALAM ARWAH

yakni alam Awal manusia diciptakan dan tidak ada satupun manusia mengetahuinya karena bagi Allah swt. tidak ada batas Ruang/Waktu dan Tempat

lalu Allah menghidupkan kamu

2) Alam Kedua : ALAM RAHIM

yakni alam dimana manusia tercipta melalui suatu proses pembenihan di dalam Rahim/ kandungan yang lamanya sudah ditentukan 9 bulan

3) Alam Ketiga : ALAM DUNIA

yakni alam ujian sebagaimana yang kita sedang alami bersama sekarang ini.

kemudian kamu dimatikan

4) Alam Keempat : ALAM SAKARATUL MAUT

yakni alam pada saat roh manusia dicabut oleh Allah swt yakni alam antara Dunia menuju alam kubur

5) Alam Kelima : ALAM KUBUR atau ALAM BARZAH,

yakni alam di mana manusia akan memperolah Siksa atau Nikmat kubur tergantung perbuatannya selama hidupnya di dunia sambil menunggu datangnya hari kiamat. Dan bagi yang memperoleh nikmat kubur, mereka para ahlul kubur seperti tidur saja layaknya

dan dihidupkan-Nya kembali

6) Alam Keenam : KIAMAT atau disebut AKHIR ZAMAN atau Yaumul Qiyamah yakni alam dimana Allah swt memusnahkan Bumi - mahluk hidup beserta seluruh isinya Lihat Situs kiamat

7) Alam Ketujuh: KEBANGKITAN

8 ) Alam Kedelapan : ALAM MASYHAR yakni alam dimana Manusia dibangkitkan kembali dari Alam Kubur oleh Allah swt serta berkumpul di Padang Masyhar dan masing masing manusia tidak mengenal satu sama lainnya

kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan

9) Alam Kesembilan: BALASAN

10) Alam Kesepuluh: DIHADAPKAN KEPADA ALLAH DAN PERHITUNGAN

11) Alam Kesebelas: KOLAM

12) Alam Keduabelas: TIMBANGAN

13) Alam Ketigabelas: JALAN

14) Alam Kesembilan : SORGA DAN NERAKA

a) ALAM SORGA: alam kenikmatan bagi manusia yang selamat setelah dihisab oleh Allah swt.
b) ALAM NERAKA: alam kesengsaraan/siksaan bagi manusia yang tidak selamat setelah dihisab oleh Allah swt.

Alam Kubur (Al-Barzakh)

Alam kubur disebut juga alam barzakh (dinding), karena kubur adalah dinding yang memisahkan antara dunia dan akhirat. Di dalam Al-Qur’an kata “barzakh” disebut di tiga ayat, yaitu Al-Mu’minuun: 100, Al-Furqaan: 53, dan Ar-Rahmaan: 20. Barzakh yang bermakna kubur terdapat pada surat Al-Mu’minuun: 100. Allah swt. berfirman, “Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” Sedangkan surat Al-Qurqaan: 53 dan Ar-Rahmaan: 20 berkaitan dengan dinding pemisah antara dua lautan.

Allah swt. banyak menyebutkan tentang kubur di dalam Al-Qur’an baik secara eksplisit maupun implisit, begitu pula Rasulullah saw. di dalam haditsnya yang mulia. Firman Allah swt. tentang alam kubur:

Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (Al-Hajj: 7)

Dan tidak sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” (Faathir: 22)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.” (Al-Mumtahanah: 13)

Pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala.” (70:43)

Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur.” (’Abasa: 21)

Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur.” (Al-’Aadiyat: 9)

Sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (At-Takaatsur: 2)

Yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.” (Al-Israa’: 52)

Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (At-Taubah: 84)

Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” (Al-Mu’minuun: 16)

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita; apakah sesungguhnya kita akan dikeluarkan (dari kubur)?” (An-Naml: 67)

Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (az-Zukhruuf: 11)

Rasulullah saw. bersabda,Apabila seseorang dari kamu berada dalam keadaan tasyahhud, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan berdoa: yang bermaksud: Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepadaMu dari siksaan Neraka Jahannam, dari siksa Kubur, dari fitnah semasa hidup dan selepas mati serta dari kejahatan fitnah Dajjal.”

Dalam Lu’lu’ wal Marjan hadits no. 1822 - 1826 disebutkan sabda Nabi saw., “Sesungguhnya seorang jika mati, diperlihatkan kepadanya tempatnya tiap pagi dan sore. Jika ahli surga, maka diperlihatkan surga, dan bila ia ahli nereka (maka diperlihatkan neraka). Maka diberitahu: Itulah tempatmu kelak jika Allah membangkitkanmu di hari kiamat.” (Bukhari dan Muslim)

“Nabi saw. keluar ketika matahari hampir terbenam, lalu beliau mendengar suara, maka bersabda: Orang Yahudi sedang disiksa dalam kuburnya.” (Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya seorang hamba jika diletakkan dalam kuburnya dan ditinggal oleh kawan-kawannya, maka didatangi dua malaikat, lalu mendudukannya keduanya dan menanyakan: Apakah pendapatmu terhadap orang itu (Muhammad saw.)? Adapun orang beriman maka menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa dia hamba Allah dan utusanNya.’ Lalu diberitahu: Lihatlah tempatmu di api neraka, Allah telah mengganti untukmu tempat di sorga, lalu dapat melihat keduanya.” (Bukhari dan Muslim)

“Seorang mukmin jika didudukkan dalam kuburnya, didatangi dua malaikat, kemudian dia mengucapkan, ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan Rasulullah’ maka itulah arti firman Allah, ‘Allah akan menetapkan orang yang beriman dengan kalimat yang kokoh (Ibrahim: 27)’.” (Bukhari dan Muslim)

“Ketika selesai Perang Badr, Nabi saw. menyuruh supaya melemparkan dua puluh empat tokoh Quraisy dalam satu sumur di Badr yang sudah rusak. Dan biasanya Nabi saw. jika menang pada suatu kaum maka tinggal di lapangan selama tiga hari, dan pada hari ketiga seusai Perang Badr itu, Nabi saw. menyuruh mempersiapkan kendaraannya, dan ketika sudah selesai beliau berjalan dan diikuti oleh sahabatnya, yang mengira Nabi akan berhajat. Tiba-tiba beliau berdiri di tepi sumur lalu memanggil nama-nama tokoh-tokoh Quraisy itu: Ya Fulan bin Fulan, ya Fulan bin Fulan, apakah kalian suka sekiranya kalian taat kepada Allah dan Rasulullah, sebab kami telah merasakan apa yang dijanjikan Tuhan kami itu benar, apakah kalian juga merasakan apa yang dijanjikan Tuhanmu itu benar? Maka Nabi ditegur oleh Umar: Ya Rasulallah, mengapakah engkau bicara dengan jasad yang tidak bernyawa? Jawab Nabi: Demi Allah yang jiwaku di TanganNya, kalian tidak lebih mendengar terhadap suaraku ini dari mereka.” (Bukhari dan Muslim)


Sumber:dakwatuna.com





Ciri Perawat dengan Visi Transedental


Perawat sebagai tenaga kesehatan yang professional mempunyai kesempatan paling besar untuk memberikan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan/asuhan keperawatan yang komprehensif dengan membantu klien memenuhi kebutuhan dasar yang holistic. Perawat memandang klien sebagai makhluk bio-psiko-sosiokultural dan spiritual yang berespon sevara holistic dan unik terhadap perubahan kesehatan atau pada keadaan krisis. Asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat tidak bisa terlepas dari aspek spiritual yang merupakan bagian integral dari interaksi perawat dengan klien. Perawat berupaya untuk membantu memenuhi kebutuhan spiritual klien sebagai bagian dari kebutuhan menyeluruh klien, antara lain dengan memfasilitasi pemenuhan kebutuhan spiritual klien tersebut, walaupun perawat dan klien tidak mempunyai keyakinan spiritual atau keagamaan yang sama.

Seorang perawat yang memiliki visi transedental dalam bekerja dia akan memiliki ciri sebagai berikut:

1. Menyadari bahwa dirinya milik ALLAH dan segala sesuatunya akan kembali pada-Nya

Dengan adanya kesadaran ini, perawat akan menyerahkan segala urusannya kepada ALLAH setelah mengupayakan semaksinal mungkin (tawakal).

Dalam firman ALLAH,

“Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada ALLAH-lah dikembalikan segala urusan”. (Q.S. Al-Hadid : 5)

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (sesungguhnya kami milik ALLAH dan kepada-Nya lah kami kembali)”.(Q.S. Al-baqarah : 156)

2. Menyadari bahwa dirinya mengemban tugas mulia menjadi khalifah

Perawat adalah role model bagi klien, ucapan dan perilakunya akan selalu menjadi sorotan kien.

Dengan begitu perawat akan berusaha bekerja dengan lebih baik lagi,dan akan mengambil ibroh (pelajaran) dari setiap kesalahan yang telah dilakukannya.

3. Menyadari bahwa dirinya manusia biasa

Dengan kesadaran ini, Perawat berupaya semaksimal mungkin untuk kesembuhan klien, namun sadar bahwa ALLAH yang menentukan kesembuhannya. Tidak ada sekutu baginya.

Sabda nabi,

“setiap penyakit ada obatnya. Jika obat itu tepat mengenai sasarannya, maka dengan izin ALLAH penyakit itu sembuh” (H.R Muslim dan Ahmad)

Manusia hanya bisa merencanakan, ALLAH penentu segalanya.

Dalam firman ALLAH,

”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(Q.S. Al-baqarah: 186)

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”.(Q.S. Asy Syu’araa: 80)

4. Memiliki ketenangan jiwa

Pada umumnya orang yang sedang menderita sakit diliputi oleh rasa cemas dan jiwa yang tidak tenang. Oleh karena itu, perawat harus memiliki ketenangan jiwa dalam memberi asuhan keperawatan dan tetap mengupayakan kesembuhan klien. Ajarkan klien berdoa dan berdzikir ( mengingat ALLAH ) agar dapat menenangkan jiwanya. ALLAH menganjurkan dalam keadaan bagaimana pun juga hendaknya ketenangan jiwa tetap di jaga karena ALLAH menjanjikan pahala surga.

Dalam firman ALLAH,

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat ALLAH. Ingatlah, hanya dengan mengingat ALLAH-lah hati menjadi tenteram. ( Q.S. Ar-ra’du: 28 )

“ wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya.maka masuklah kedalam jamaah hamba-hambaku dan masuklah ke dalam surga-Ku”. ( Q.S. Al Fajr,89: 27-30 )

5. Mengupayakan semaksimal mungkin untuk kesembuhan klien

Perawat harus tetap mengupayakan kesembuhan klien berdasarkan prosedur disiplin ilmu yang pernah ia dapat. Upaya perawat akan dapat menenangkan hati klien dan dapat memotivasi klien agar tidak menyerah dengan penyakitnya serta terus berdoa dan berdzikir. Sabda nabi :

“ setiap penyakit ada obatnya. Jika obat itu tepat mengenai sasarannya maka dengan izin ALLAH penyakit itu sembuh “ ( H.R. Muslim dan Ahmad )

“ berobatlah kalian, sesungguhnya ALLAH SWT tidak mendatangkan penyakit kecuali mendatangkan juga obatnya, kecuali penyakit tua “ ( H. R. At-tirmidzi )

6. Memiliki kesabaran yang tinggi

Dalam pandangan agama islam orang yang sedang menderita sakit dan orang yang mengupayakan kesembuhannya itu dapat dianggap sebagai ujian keimanan, dan untuk mengatasinya diperlukan kesabaran. Firman ALLAH

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada ALLAH) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya ALLAH beserta orang-orang yang sabar”. (al-baqarah : 153)

“ dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,kekurangan harta, jiwa , dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar “ (Q.S. al baqarah : 155 )

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi ALLAH itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”.(Q.S. Azzumar:10)

  1. Selalu memohon ampun pada ALLAH

Perawat meyakini bahwa apa yang dilakukannya belum tentu benar, bagaimanapun perawat adalah manusia, tentunya memiliki khilaf dan salah. Sehingga ia selalu memohon ampun kepada ALLAH,

”dan mohonlah ampun kepada ALLAH. Sesungguhnya ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(Q.S. Annisa: 106)

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (al-baqarah : 186)

Sumber ABORSI dimensi psikoreligi- Prof.DR.dr.H. Dadang Hawari (psikiater)











Sesuatu yang harus Kita MiliQ

Sebagai seorang perawat,yang memilih untuk meraih bahagia di dunia dan akhirat,ada beberapa poin yang harus kita tahu dan kita realisasikan...Poin-poin itu antara lain :

"Banyak memberi dari mengambil manfaat dalam berhubungan dengan orang lain"
Orang yang selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baiknya manusia.
Setidaknya ada
4 alasan mengapa Rasulullah saw menyebutnya demikian.
Alasan yang
pertama adalah karena dia dicintai oleh Allah SWT. Rasul pernah bersabda yang bunyinya kurang lebih, "orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain".
Alasan
kedua adalah karena dia melakukan amalan terbaik. Kaidah usul fikih menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat daripada yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri.
Alasan
ketiga adalah karena itu adalah kebaikan yang sangat besar pahalanya. Bahkan Rasulullah saw pernah berkata, "Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada itikaf sebulan di masjidku ini" (Thabrani).
Alasan
keempat adalah karena memberi manfaat kepada orang lain tanpa pamrih, mengundang kesaksian dan pujian dari orang yang beriman. Allah SWT itu mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri kita adalah orang baik, maka Allah menggolongkan kita kedalam golongan hamba-hambaNya yang baik (sesuai dengan Surat At-Taubah ayat 105, Allah awt menyuruh Rasulullah untuk memerintahkan kita, oarang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal karena Allah, rasul dan orang beiman menilai amal-amal kita,dan di hari akhir Rasul dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti yang mereka saksikan di dunia).

"Kikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materi dari diri kita"
Allah SWT telah memberi contoh nyata yakni kaum anshor (Surat Al Hasyr ayat 9 yang artinya, "Merekalah sebaik-baik manusia. Memberikan semua yang mereka butuhkan untuk saudara mereka kaum mujahirin. Bahkan ketika kaum Mujahirin telah mapan secara finansial, tidak terbesit di hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri")

"Tanamkan dalam diri kita bahwa sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah diberikan kepada orang lain"
Jika kita tidak memanfaatkan harta kita untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis lapuk karena waktu dan hilang karena kematian.

"Pahami bahwa sebagaimana kita memperlakukan, seperti itu jualah kita akan diperlakukan"

Kita akan mudah memberi manfaat tanpa pamrih kepada orang lain jika kita tahu pemahaman yang demikian. Jika kita memberikan sesuatu yang baik kepada orang lain, dan orang tersebut merasa senang, maka kita akan merasakan hal yang sama ketika seandainya orang lain memberi sesuatu yang baik untuk kita.

"Untuk bisa memberi, harus ada sesuatu untuk diberi"
Kumpulkan bekal apapun bentuknya. Apakah itu finansial, pikiran, tenaga, waktu dan perhatian. Jika kita punya air, kita bisa memberi minum orang yang haus. Jika kita punya ilmu, kita bisa mengajarkan orang yan
g tidak tahu. Yang penting kita mampu meluangkan waktu untuk bersosialisasi,dengan begitu kita bisa hadir untuk orang-orang di sekitar kita.


sumber: www.dakwatuna.com







Perawat Muslimah Bekerja di Rumah Sakit


Oleh: Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu

Bolehkah seorang perawat muslimah bekerja di bagian kewanitaan pada salah satu rumah sakit hingga ia bisa merawat pasien-pasien wanita. Di tempat kerjanya ini, ia memakai pakaian yang syar‘i namun tidak bisa mengenakan jilbab (pakaian luar yang longgar/lapang dan menutupi seluruh tubuh dari kepala sampai telapak kaki) dikarenakan dalam pelaksanaan tugas/pekerjaannya tidak memungkinkan baginya mengenakan jilbab tersebut. Namun tidak ada laki-laki yang mondar-mandir di ruang kerjanya kecuali hanya para pelayan (tukang sapu dan semisalnya) dan apoteker. Pada waktu lain, ia diminta untuk tugas jaga –shift malam– sehingga sepanjang malam ia berada di rumah sakit dan sangat mungkin laki-laki masuk ke tempatnya sementara tidak ada mahram yang mendampinginya. Lalu apa yang harus dilakukan perawat itu? Sebelumnya perlu diketahui suami si perawat mampu memberikan belanja kepadanya tanpa ia harus bekerja.

Jawab:

Asy-Syaikh Al-’Allamah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu memberikan fatwa atas pertanyaan di atas, beliau berkata:

Apabila kita mengingat hukum yang ada, maka kita ketahui bahwa asalnya seorang wanita muslimah itu harus berdiam/tinggal di dalam rumahnya dan tidak boleh keluar rumah kecuali bila memang ada keperluan. Di samping itu, disampaikan pada kami dari pertanyaan yang ada bahwa suami si wanita (perawat tersebut) mampu menafkahinya. Maka dengan begitu kami memandang, wanita itu tidak boleh bekerja di luar rumahnya. Bila ia memang tetap berkeinginan bekerja di bidang medis untuk merawat/mengobati pasien wanita secara khusus, ia bisa membuka praktek di rumah sehingga tidak perlu keluar untuk bekerja di rumah sakit. Karena dengan bekerjanya si wanita di rumah sakit berarti ia menghadapkan dirinya pada ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan tanpa hijab/tabir penghalang) baik yang kecil maupun yang besar seperti yang disebutkan dalam pertanyaan. Sehingga ia terjatuh ke dalam pelanggaran syariat, sedikit ataupun banyak, sementara ia sebenarnya bisa menghindarinya.

Adapun pertanyaan yang menyebutkan bahwa si wanita dengan profesinya sebagai perawat di rumah sakit, ia tidak bisa mengenakan jilbab karena demikian tuntutan pekerjaannya, akan tetapi masih bisa mengenakan pakaian yang menutupi auratnya maka aku nyatakan bahwa hal itu bukanlah alasan. Kecuali bila kita gambarkan bahwa jilbab itu adalah (model) satu potong pakaian yang dikenakan wanita untuk menutupi tubuhnya dari atas kepala sampai ke telapak kaki dan kita anggap model jilbab memang harus demikian, itu merupakan perkara ta’abbudiyyah. Yakni dibebani para wanita untuk senantiasa mengenakan hijab/pakaian dengan model tersebut. Bila kita tetapkan jilbab itu demikian, maka perbuatan si wanita jelas teranggap sebagai penyelisihan lain yang dilakukannya karena ia tidak mengenakan jilbab tersebut dengan alasan pekerjaan. Ia menggantinya dengan pakaian model lain yang bisa menutupi tubuhnya. Namun perlu diketahui, jilbab itu ditinjau dari sisi jenis dan model/bentuknya. Dan sebenarnya bukannya model/bentuk jilbab yang dituju, tapi model itu hanyalah satu perantara untuk menutup aurat wanita. Dengan begitu boleh bagi seorang wanita memakai pakaian apa yang diinginkannya namun dalam batasan syarat-syarat yang ada sebagaimana yang telah aku sebutkan dalam kitab Hijabul Mar`ah Al-Muslimah1. Seandainya pakaian yang dikenakannya itu bukanlah jilbab secara bahasa yakni tidak terdiri dari satu potong pakaian (yang lebar/lapang, yang bisa menutupi dari atas kepala sampai telapak kaki) maka hendaklah ia mengenakan pakaian yang terdiri dari tiga potong2. Akan tetapi yang penting dari semua itu, pakaian pengganti jilbab tersebut dapat menggantikan fungsi jilbab. Bila seperti itu keadaannya maka tidak ada masalah bagi perawat tersebut dan tidak pula yang lainnya untuk tidak mengenakan jilbab namun menggantinya dengan pakaian lain yang bisa menggantikan fungsi jilbab secara sempurna3.

Kesimpulannya, wanita keluar dari rumahnya merupakan perkara yang menyelisihi hukum asal. Dan masuknya si wanita ke rumah sakit yang di dalamnya berbaur laki-laki dan perempuan merupakan ikhtilath yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Seandainya di sana ada rumah sakit khusus wanita, maka yang jadi direkturnya semestinya wanita, pelayan/pekerjanya juga wanita, demikian pula para pasien (berikut perawatnya). Seharusnya memang di negeri-negeri Islam ada rumah sakit yang demikian di mana para wanita secara khusus yang mengurusnya, baik dokter, direktur, pelayan/pekerjanya, dan semisalnya (semuanya wanita). Adapun bila rumah sakitnya seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, rumah sakit yang ikhtilath, maka kami nasehatkan agar wanita muslimah yang beriman kepada Rabbnya hendaknya bertakwa kepada Allah dan hendaklah ia tetap tinggal di rumahnya.

(Al-Hawi min Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 474-475)

Footnote:

1 Lihat tentang syarat-syarat pakaian yang syar‘i bagi wanita dalam Majalah Syariah Vol. I/No. 03, rubrik Muslimah Bertanya, hal. 58-59.
2 Misalnya si wanita mengenakan pakaian rumah, kemudian dirangkap dengan jubah sebagai pakaian luar yang lebar dan lapang lagi menutupi kakinya, ditambah dengan kerudung yang lebar dan panjang menutupi kepala, wajah dan dadanya (dalam hal ini ada perbedaan pendapat dalam hal menutup wajah antara yang menyatakan wajib dan sunnah, ed), wallahu a‘lam –pent.
3 Dari fatawa Syaikh rahimahullahu kita fahami bahwa untuk menutup aurat secara sempurna seorang wanita tidak harus mengenakan satu potong pakaian yang lebar dan lapang menutupi dari atas kepalanya sampai telapak kakinya, yang diistilahkan jilbab. Namun ia boleh memakai beberapa potong pakaian yang memenuhi syarat-syarat hijab yang syar‘i hingga bisa secara sempurna menggantikan fungsi jilbab, wallahu a‘lam bish-shawab.

(Sumber: Majalah Asy Syari’ah, Vol. II/No. 22/1427H/2006, Kategori Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, hal. 90-91. Dicopy dari http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=34

HUKUM MENETAPNYA PERAWAT WANITA BERSAMA PERAWAT PRIA DI RUMAH SAKIT TANPA TERJADI KHULWAH

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya seorang perawat (laki-laki) yang bertugas merawat kaum laki-laki, bersama saya ada seorang suster (perawat wanita) yang bertugas di bagian yang sama setelah selesai jam kerja yang resmi, waktu kerjanya terus berlangsung hingga pagi. Kadang terjadi Khulwah antara kami berdua, kami pun takut terjadi fitnah terhadap diri kami, tapi kami tidak bisa mengubah kondisi ini. Apakah kami harus meninggalkan tugas karena takut kepada Allah ? Sementara kami tidak mempunyai pekerjaan lain untuk mencari nafkah. Kami mohon arahan Syaikh.

Jawaban.
Para pemimpin rumah sakit-rumah sakit tidak boleh menugaskan seorang perawat laki-laki dan seorang perawat wanita untuk piket dan jaga malam bersama, ini suatu kesalahan dan kemungkaran besar, dan ini artinya mengajak kepada perbuatan keji. Jika seorang laki-laki hanya berduaan dengan seorang wanita di suatu tempat, tidak bisa dijamin aman dari godaan setan untuk melakukan perbuatan keji dan sarana-sarananya. Karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidaklah seorang laki-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali yang ketiganya setan"[1]

Maka perbuatan itu tidak boleh dilakukan, dan hendaknya anda meninggalkannya karena itu perbuatan haram dan bisa mengarah kepada yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika anda meninggalkannya, Allah akan memberikan ganti yang lebih baik, sebagaimana firmanNya.

"Artinya : Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya". [Ath-Thalaq : 2-3]

Dan firmanNya.

"Artinya : Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya". [Ath-Thalaq : 4]

Begitu pula perawat wanita, hendaknya menjauhi itu dan minta jadwal tugas lain, karena masing-masing anda akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa-apa yang diwajibkan dan diharamkan Allah atasnya.

[Fatawa Ajilah Limansubi Ash-Shihhah, hal.24-26, Syaikh Ibnu Baz]

HUKUM CAMPUR BAURNYA PEREMPUAN DENGAN LAKI-LAKI DI UNIVERSITAS-UNIVERSITAS


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah seorang laki-laki boleh belajar di universitas atau hall yang dihadiri oleh kaum laki-laki dan wanita ? Perlu diketahui, bahwa laki-laki itu mempunyai kepentingan dakwah.

Jawaban
Menurut saya, baik laki-laki maupun wanita, tidak boleh belajar di universitas-universitas yang membiarkan terjadinya ikhtilat, bahkan sekalipun yang dipelajarinya itu hanya terdapat di universitas tersebut, karena hal ini mengandung bahaya besar terhadap kesantunan, kesucian hati dan akhlaknya. Seorang laki-laki walaupun memiliki hati yang bersih, akhlak dan niat yang baik, jika disamping kurisnya ada wanita, apalagi jika wanita itu cantik dan berdandan, tidak menjaminnya selamat dari fitnah dan keburukan. Jadi, semua yang mengarah kepada fitnah dan keburukan hukumnya haram dan tidak boleh. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaga saudara-saudara kita sesama muslim dari hal-hal seperti itu yang hanya akan mengantarkan keburukan, fitnah dan kerusakan kepada para pemudanya.

[Durus Wa Fatawa Fil Haram Al-Makki, hal. 315, Syaikh Ibnu Utsaimin]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthoha Aini dkk, Penerbit Darul Haq]